FIFA memutuskan untuk menggunakan sistem head-to-head sebagai indikator utama dalam menentukan posisi klasemen fase grup Piala Dunia 2026 jika ada tim yang mengoleksi poin sama.

Kebijakan ini menjadi momen bersejarah karena mengubah tradisi yang sudah berlaku lama. Sejak edisi Piala Dunia 1970 hingga 2022, FIFA selalu mengandalkan selisih gol keseluruhan.

in1

>>> John Herdman Targetkan Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Pada aturan terdahulu, produktivitas gol dan jumlah kebobolan menjadi faktor penentu yang sangat krusial.

Setiap tim berkompetisi memproduksi gol sebanyak mungkin demi mengamankan posisi superior saat berada dalam situasi poin kembar.

Skema perhitungan tersebut kini resmi berganti.

Langkah FIFA ini mengikuti jejak UEFA yang telah lebih dahulu memprioritaskan rekor pertemuan atau head-to-head dalam menyusun peringkat klasemen.

Melalui sistem baru ini, jika tim A dan tim B mengantongi poin yang sama di klasemen akhir, posisi mereka ditentukan dari hasil laga keduanya.

Tim yang memenangkan pertandingan antar-tim tersebut otomatis berhak menempati peringkat lebih tinggi.

Pergeseran regulasi ini diadopsi karena mekanisme head-to-head dinilai menyajikan aspek keadilan yang lebih tinggi.

Sistem ini lebih menghargai hasil duel langsung dari dua kubu yang tengah bersaing ketat.

Penerapan aturan anyar ini menghadirkan efek langsung yang signifikan dalam jalannya kompetisi.

Sebuah tim kini memiliki peluang untuk mengunci status sebagai juara grup meski baru melewati dua pertandingan awal.

Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika federasi masih mempertahankan sistem selisih gol.

Di sisi lain, konsekuensi buruk juga bisa langsung menimpa tim yang menderita kekalahan dua kali berturut-turut karena mereka dapat langsung dipastikan tersingkir.

>>> John Herdman Targetkan Juara FIFA ASEAN Cup, Panggil Pemain Terbaik Timnas Indonesia