Setelah itu, fokus aliansi akan diperluas ke lima mineral baru pada setiap tahunnya.

Dominasi Infrastruktur Pemrosesan China

Aliansi ini nantinya akan berbagi data dengan dukungan dari Badan Energi Internasional (IEA) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

in1

Kerja sama tersebut bertujuan untuk mengantisipasi krisis pasokan, membangun cadangan domestik, serta meningkatkan kapasitas daur ulang guna memenuhi sebagian besar kebutuhan mineral G7 pada 2030.

Saat ini, pasar mineral kritis global masih didominasi oleh China.

Negara tersebut menguasai lebih dari 90% pemurnian unsur tanah jarang dunia, sekitar 80% grafit untuk baterai, serta sebagian besar pengolahan litium dan kobalt.

>>> Tim SAR Gabungan Cari Nelayan Hilang di Perairan Batam

Kondisi ini membuat negara-negara kaya sumber daya seperti Australia untuk litium, Chile untuk tembaga, Indonesia untuk nikel, dan Republik Demokratik Kongo untuk kobalt masih sangat bergantung pada infrastruktur pemrosesan China untuk mengubah bahan mentah menjadi komponen siap pakai.