Nasaruddin Umar dalam rekaman tersebut mengimbau agar penyampaian aspirasi masyarakat yang bertujuan baik tidak dilakukan dengan cara-cara buruk yang justru dapat memicu dampak kontraproduktif.

"Ya, jadi jangan sampai nanti kita melakukan suatu tujuan yang baik, tapi melalui cara-cara yang kurang baik, akhirnya kontraproduktif, ya kan?

in1

Mari kita mencontoh Nabi-lah. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk, tapi tidak menjelekkan...

sampai ada ayatnya, kan?" lanjut Nasaruddin.

Menag mengakhiri penjelasannya dengan merujuk perintah keagamaan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menggunakan qaulan layyinan atau perkataan yang lembut di hadapan penguasa zalim seperti Fir'aun.

"Ya, Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Fir’aun, itu juga ditegaskan untuk menggunakan qaulan layyinan, bahasa yang santun terhadap Fir’aun.

Jadi, orang seperti Fir’aun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Apalagi kalau orang itu bukan Firaun, ya kan?"

kata Nasaruddin Umar.

Pihak kementerian pun mengimbau masyarakat untuk tetap bijak menghadapi perbedaan pandangan tanpa harus terprovokasi oleh potongan informasi yang keliru.

>>> BPS Mulai Sensus Ekonomi 2026 Serentak di Seluruh Indonesia

"Mari hindari memotong kalimat hanya untuk memancing emosi dan memunculkan kesalahpahaman. Mari jauhi upaya adu domba dan tetap jaga persatuan bangsa," ajak Kamaruddin Amin.