Nilai tukar rupiah di pasar spot merosot 0,30 persen ke level Rp 17.847 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/6) siang.

Pelemahan ini dipicu oleh melonjaknya indeks dolar AS (DXY) yang menembus posisi 101,03.

in1

>>> Transaksi QRIS Wisatawan Asing di Indonesia Tembus Rp4,3 Triliun

Kenaikan indeks dolar AS terjadi setelah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed meningkat pasca-agenda Federal Open Market Committee (FOMC).

Kondisi tersebut mendorong indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Faktor Eksternal dan Internal

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kekhawatiran pasokan minyak mentah dunia yang belum pulih akibat perang turut mendukung penguatan dolar AS.

Di sisi lain, sentimen positif dari dalam negeri muncul setelah MSCI mempertahankan status pasar Indonesia sebagai emerging market, meskipun terjadi penurunan pada kriteria arus informasi.

>>> Pemerintah Tetapkan Ketentuan Perayaan Hari Kartini 2026

Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% dinilai krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

BI diproyeksikan masih akan menaikkan suku bunga acuan minimal 50 bps ke depan.

Hingga akhir semester I-2026, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak pada rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Rupiah berpotensi menguat bertahap jika BI konsisten menerapkan kebijakan pengetatan.

>>> Meksiko Ubah Tiga Posisi Pemain Hadapi Korea Selatan di Piala Dunia 2026

Namun, Lukman Leong menambahkan bahwa perkembangan eksternal seperti konflik geopolitik dan pergerakan dolar AS masih akan mendikte rupiah dari waktu ke waktu.