NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan, apa artinya bagi keutuhan bangsa?"

jelas Gus Lilur.

in1

Gus Lilur menyamakan semangat Muktamar ke-35 dengan peristiwa Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945.

Saat itu, para pemimpin Islam merelakan tujuh kata demi mencegah disintegrasi negara yang baru merdeka.

"Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam: memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya.

Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar," ujarnya.

Sebagai bentuk konkret dari semangat kenegaraan, ia menegaskan figur pemimpin PBNU yang terpilih harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama dua periode.

"Kita sudah melihat jejaknya: polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antara institusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri.

>>> IFG Life Dorong Orang Tua Siapkan Asuransi Hadapi Empty Nest Syndrome

Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin NU pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu," pungkas Gus Lilur.