Mengenai prospek ke depan, Wafi memproyeksikan saham Danantara berpeluang kembali outperform jika hasil tinjauan MSCI positif dan kurs rupiah stabil.

>>> Korea Selatan Tantang Meksiko di Grup A Piala Dunia 2026

in1

Langkah buyback dan pembagian dividen tunai juga dipandang mampu menjadi pendorong jangka pendek bagi IDX BUMN20.

Namun, ia memperingatkan kenaikan BI rate ke level 5,75% masih memberikan tekanan terhadap beban bunga sektor infrastruktur dan net interest margin (NIM) perbankan.

Arinda melihat saham Danantara masih memiliki prospek cerah, terutama jika stabilitas makroekonomi domestik dan aliran dana asing dapat dipertahankan.

Keberlanjutan performa IDX BUMN20 ke depan akan dipengaruhi oleh arah suku bunga BI, dinamika ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan realisasi belanja pemerintah.

Faktor risiko tetap harus dicermati jika kondisi pasar domestik tertekan atau sentimen global memburuk.

"Peluang penguatan masih ada, tapi risiko volatilitas tetap perlu diantisipasi," ujar Arinda.

Terkait rekomendasi, Arinda menempatkan sektor perbankan sebagai opsi utama, terutama BBRI, BMRI, dan BBNI, karena likuiditas aman, profitabilitas tinggi, fundamental kokoh, dan rutin membagikan dividen.

Sektor telekomunikasi dan energi juga dinilai menarik seiring tingginya kebutuhan digitalisasi dan stabilitas harga komoditas global.

Beberapa saham seperti ANTM, TINS, BBRI, dan TLKM dinilai menarik untuk diperhatikan pelaku pasar.

Target harga yang ditetapkan meliputi ANTM Rp5.000, TINS Rp4.500, BBRI Rp4.000, dan TLKM Rp3.500 per saham.

>>> KPK: Pemanggilan Pansus Haji DPR Tergantung Kebutuhan Penyidikan

Sementara itu, Wafi menilai saham Danantara di sektor pertambangan atau energi serta perbankan tetap memiliki daya tarik karena likuiditas tinggi, yield dividen di atas rata-rata, dan sokongan pemerintah.