KAI terus mempercepat koordinasi lintas sektor guna memperkuat keselamatan publik di sekitar jalur kereta. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah pusat, daerah, kepolisian, dinas perhubungan, dan warga sekitar.

Manajemen KAI menekankan pentingnya mengubah kebiasaan melintas di titik rawan. Satu akses rawan yang dibiarkan terbuka dapat membentuk kebiasaan melintas yang berbahaya.

Disiplin pengguna jalan menjadi faktor penentu utama keselamatan di lapangan. Kelalaian mengabaikan rambu dan petugas dapat langsung menghilangkan ruang aman berkendara.

KAI mengingatkan bahwa kereta api memiliki jalur tetap dan jarak pengereman panjang. Oleh karena itu, kendaraan jalan raya wajib berhenti dan memberi prioritas kepada kereta.

Pembagian wewenang pengelolaan jalan dan pelintasan didasarkan pada status jalan nasional, provinsi, atau kabupaten/kota. Penutupan perlintasan rawan perlu dipahami sebagai upaya melindungi nyawa.

KAI memahami masyarakat membutuhkan akses, namun akses yang aman harus menjadi pilihan utama. Titik yang membahayakan perlu ditata agar warga diarahkan ke jalur yang lebih selamat.

Dukungan pemerintah daerah dalam rekayasa lalu lintas dan evaluasi perlintasan tanpa izin sangat dibutuhkan. KAI mengajak semua pihak melihat penataan perlintasan dari sudut pandang keselamatan.

Akses yang sedikit lebih jauh tetapi tertib dan terlindungi jauh lebih baik daripada akses dekat yang menyimpan risiko fatal.

KAI mengimbau pengguna jalan untuk selalu menjaga kedisiplinan.

>>> Baznas Buka Layanan Kesehatan Gratis untuk Warga Terdampak Gempa Parigi Moutong

Setiap perlintasan adalah titik keputusan. Berhenti beberapa detik, melihat kanan dan kiri, serta mematuhi rambu dapat menyelamatkan banyak nyawa.