>>> Pertamina Patra Niaga Jaga Stabilitas Harga Pertamax Juni 2026

Meski demikian, inflasi masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5%-3,5%.

LPEM UI menilai kenaikan suku bunga tambahan kurang efektif dalam jangka pendek karena tekanan inflasi lebih banyak dari sisi pasokan dan harga yang diatur pemerintah.

Pergerakan nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian utama setelah sempat menyentuh level terendah di atas Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.

Kondisi itu mendorong BI menaikkan suku bunga secara tidak terjadwal sebesar 25 basis poin pada 9 Juni, langkah darurat pertama di luar jadwal RDG sejak 2018.

LPEM UI menilai tindakan BI sudah tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah kekhawatiran investor terhadap risiko domestik.

Gejolak pasar keuangan belakangan ini lebih banyak dipicu faktor internal, termasuk pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memicu kekhawatiran intervensi negara pada ekspor komoditas.

Sentimen tersebut tercermin dari aksi jual investor asing di pasar saham yang mencatat arus modal keluar US$1,5 miliar sepanjang 20 Mei hingga 11 Juni 2026.

Pada periode yang sama, pasar obligasi hanya membukukan arus masuk tipis US$0,02 miliar, disertai penurunan cadangan devisa.

Hingga akhir Mei, cadangan devisa Indonesia turun US$1,3 miliar dibanding April, atau terkoreksi sekitar US$11,6 miliar sejak awal tahun akibat intervensi di pasar valas.

LPEM UI memandang posisi cadangan masih aman karena setara 5,6 bulan impor, dan ruang penurunan suku bunga tetap terbuka jika ekonomi melambat.

"Inflasi tetap dalam kisaran target BI sehingga mengurangi urgensi kenaikan suku bunga tambahan. Namun ruang pemangkasan suku bunga kemungkinan terbatas selama rupiah masih tertekan," tulis Jahen.

>>> Saham Big Banks Melemah Jelang Pengumuman Suku Bunga Bank Indonesia

Dengan inflasi terkendali, dampak pengetatan moneter yang belum sepenuhnya terserap, serta tekanan rupiah yang mereda, Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil sikap wait and see pada RDG Juni 2026.