Instrumen ini terbagi atas Seri A Rp 100 miliar dengan kupon 5,75 persen selama 367 hari, Seri B Rp 290 miliar berkupon 6,95 persen selama tiga tahun, serta Seri C Rp 100 miliar berkupon 7,35 persen selama lima tahun.

Pada awal tahun ini, tepatnya 3 Maret 2026, perusahaan kembali mengedarkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2026 bernilai total Rp 939,03 miliar.

Seri A tercatat sebesar Rp 50 miliar dengan bunga 5,7 persen berjangka 367 hari, Seri B Rp 325,11 miliar berkupon 7 persen bertenor tiga tahun, dan Seri C senilai Rp 563,92 miliar berkupon 7,85 persen untuk masa lima tahun.

Kinerja Keuangan PALM

Penerapan strategi pendanaan ini berjalan beriringan dengan pemulihan kinerja finansial PALM secara signifikan pada kuartal pertama tahun ini.

Perusahaan sukses membukukan keuntungan periode berjalan senilai Rp 2,32 triliun hingga posisi 31 Maret 2026.

Perolehan laba tersebut melonjak sebesar Rp 3,75 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, saat korporasi masih menanggung kerugian bersih sebesar Rp 1,42 triliun.

Pembalikan situasi keuangan ini dipicu oleh keuntungan neto atas investasi saham dan efek ekuitas lainnya yang menyumbang pendapatan sebesar Rp 2,44 triliun, setelah sebelumnya merugi Rp 1,3 triliun.

Struktur neraca perusahaan juga menunjukkan ekspansi dengan total aset tumbuh menjadi Rp 11,55 triliun per akhir Maret 2026, atau melesat 25,6 persen dari nilai akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 9,19 triliun.

Pos liabilitas terpantau mengalami kenaikan tipis sebesar 0,8 persen menjadi Rp 3,28 triliun dari semula Rp 3,25 triliun.

>>> Argentina Tekuk Aljazair 3-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Sedangkan ekuitas perusahaan melonjak 39,1 persen hingga menyentuh Rp 8,26 triliun dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp 5,94 triliun.