Mayoritas bank sentral negara maju diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Bank Sentral Jepang menjadi pengecualian karena pasar masih memperkirakan adanya ruang untuk kenaikan suku bunga yang telah diantisipasi sebelumnya.

Mona Mahajan dari Edward Jones menilai lingkungan suku bunga yang bertahan tinggi belum tentu menjadi hambatan bagi pasar saham.

"Bagi pasar, latar belakang suku bunga yang 'lebih tinggi untuk waktu lebih lama', alih-alih siklus pengetatan baru, menurut pandangan kami tetap dapat mendukung valuasi saham. Terutama jika hal itu mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang tangguh di tengah tekanan inflasi yang mereda secara bertahap," kata Mahajan.

Sementara itu, pasar obligasi AS menunjukkan pergerakan yang lebih tenang. Imbal hasil surat utang pemerintah masih berada di atas level terendah awal pekan, meskipun lelang obligasi tenor 20 tahun berlangsung. Pada sesi terakhir, imbal hasil berbagai tenor turun sekitar dua hingga lima basis poin, dengan obligasi tenor 30 tahun mencatat penurunan terbesar.

Menurut David Robin dari TJM Institutional Services LLC, pelaku pasar masih menimbang dampak turunnya harga energi terhadap prospek inflasi jangka panjang.

"Dalam jangka pendek, harga minyak memang turun cukup tajam, tetapi pasar sedang mencoba menentukan mana yang lebih penting—dampak jangka pendek atau ketidakjelasan pengaruhnya terhadap inflasi dalam jangka panjang. Belum adanya jawaban yang jelas membatasi pengaruh pergerakan harga minyak terhadap pasar suku bunga," ujarnya.

Fokus utama investor kini mengarah ke pertemuan Federal Reserve yang menjadi rapat pertama Kevin Warsh sebagai gubernur bank sentral AS. Pasar memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga pada pertemuan kali ini.

Meski keputusan diprediksi tetap, perhatian tertuju pada cara Warsh menyampaikan pandangannya mengenai inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan. Sejumlah ekonom memperkirakan akan ada perubahan dalam pola komunikasi The Fed, termasuk kemungkinan tidak lagi memasukkan proyeksi pribadi gubernur dalam publikasi "dot plot" yang selama ini menjadi salah satu panduan pasar.

Bret Kenwell dari eToro menilai perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter berlangsung sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir.

"Dalam hitungan bulan, narasi pasar telah berubah dari ‘berapa kali pemangkasan suku bunga tahun ini?’ menjadi ‘berapa kali kenaikan suku bunga yang mungkin terjadi?’ Itu perubahan besar dan menempatkan Warsh dalam posisi yang tidak mudah. Ia bisa mengakui penurunan harga minyak baru-baru ini dan terdengar lebih sabar, tetapi ia juga tidak boleh terlihat lengah jika tekanan inflasi yang lebih luas bergerak ke arah yang salah," kata Kenwell.