>>> Messi Cetak Hat-trick, Samai Rekor Gol Piala Dunia Klose

"Hanya Presiden Macron masih percaya FCAS bisa bertahan," ujar Senator Cedric Perrin, presiden komite luar negeri Senat Prancis.

Pihak Jerman mengakui adanya ketidakmampuan kedua perusahaan untuk bekerja sama. Meski demikian, Kanselir Jerman Friedrich Merz tetap optimis dengan sisa proyek komponen FCAS yang masih bisa dicapai.

Kekosongan Armada Tempur

Prancis dan Jerman tampaknya akan segera beralih ke proyek domestik atau multinasional lain untuk mengisi kekosongan armada jet tempur masa depan mereka.

Prancis memiliki sejarah panjang dalam memproduksi pesawat tempur secara mandiri, seperti Mirage dan Rafale buatan Dassault.

Sebaliknya, Jerman lebih membutuhkan jet tempur dogfight tradisional dan sempat mempertimbangkan apakah pesawat masa depan perlu pilot atau tidak.

Sejak Perang Dunia II, Jerman belum pernah memproduksi jet tempur sendiri dan selalu memilih proyek multinasional Eropa.

Contohnya, Tornado bersama Inggris dan Italia pada 1970-an, serta Eurofighter pada 1990-an.

Meskipun demikian, hilangnya proyek pesawat gabungan ini dinilai bukan kemunduran serius bagi kapabilitas pertahanan Eropa.

Nilai nyata dari proyek ini bisa diselamatkan jika dua pilar FCAS yang tersisa, yaitu combat cloud dan drone wingmen, tetap dipertahankan.

"Untuk jet modern bukan lagi tentang seberapa cepat mereka terbang dan seberapa tajam mereka bermanuver," kata Per Erik Solli, analis pertahanan Norwegian Institute of International Affairs.

>>> Bank Sleman Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lima Posisi Strategis

Menurutnya, kehadiran drone wingmen membuat jet modern lebih menyerupai kapal komando daripada pesawat tempur independen.