Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai situasi ini berpotensi membuka peluang aliran modal asing kembali masuk secara berkelanjutan jika stabilitas ekonomi makro dan nilai tukar rupiah tetap terjaga.

Nafan juga menjelaskan bahwa MSCI memberikan perhatian intensif pada integritas pasar dan transparansi kepemilikan saham.

"Concern utama MSCI terhadap market Indonesia adalah transparansi struktur kepemilikan, praktik perdagangan, dan free float," ujarnya.

>>> Jamal Sellami Bawa Tujuh Pemain Muda Yordania ke Piala Dunia 2026

Meskipun demikian, ia menilai peluang peningkatan penilaian pada review 18 Juni masih terbatas karena MSCI masih menerapkan pendekatan wait and see.

Respons cepat dari OJK dan SRO telah diapresiasi MSCI, termasuk kewajiban pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen, klasifikasi investor lebih detail, kerangka High Shareholding Concentration List, serta komitmen meningkatkan syarat minimum free float hingga 15 persen.

Namun, Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda memperingatkan bahwa penurunan kasta saham Indonesia ke frontier market bukan sesuatu yang mustahil.

"Dampaknya tentu cukup besar mengingat investor akan berbondong-bondong menarik uangnya dari saham Indonesia," ungkapnya.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pelemahan IHSG ke bawah level 6.000 merefleksikan kepanikan pasar atas ketidakpastian perubahan regulasi internal.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya reformasi aturan kepemilikan saham publik yang nyata.

Dari perspektif teknikal, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai IHSG sudah oversold saat menyentuh 5.400 an dan sedang dalam fase rebound.

Namun, ia mengingatkan potensi profit taking jika muncul katalis negatif.

Investment Specialist KISI Sekuritas Ahmad Faris Mu’tashim memperkirakan jika pasar turun ke frontier, outflow bisa mencapai Rp 200 triliun.

Ia menekankan bahwa dampak likuiditas tidak hanya dari asing, tetapi juga dari manajemen investasi lokal yang memiliki produk reksadana indeks terkait.

Kepala Investasi UOB Asset Management Indonesia Albert Budiman mencatat adanya kemajuan dalam transparansi pasar, meskipun belum diketahui apakah itu cukup bagi MSCI.

Sinarmas Sekuritas menilai investor cenderung wait and see menjelang pengumuman review.

>>> MUI Soroti Titik Kritis Kehalalan Nata de Coco dalam Proses Produksi

Stockbit merilis catatan bahwa fokus utama pasar adalah pencabutan pembekuan penambahan konstituen indeks dan kepastian klasifikasi status Indonesia, apakah tetap emerging market atau diturunkan ke frontier market.