Kapasitas pembangkit energi terbarukan diperkirakan melonjak hampir tiga kali lipat dalam satu dekade ke depan, terutama pada pemanfaatan energi surya.

Filipina menjadi tujuan terbesar kedua ekspor panel surya asal China pada kuartal I 2026 dengan nilai impor melonjak tiga kali lipat dibanding periode sama tahun lalu.

Di sisi lain, batu bara yang masih mendominasi sistem energi Asia Tenggara berpotensi mendapat dukungan tambahan demi menjaga ketahanan energi.

Sementara itu, energi nuklir mulai dilirik beberapa negara sebagai opsi diversifikasi jangka panjang, meski implementasinya bergantung pada kemampuan memangkas waktu pembangunan.

Lonjakan Permintaan Listrik Kawasan

Listrik diproyeksikan menjadi pusat sistem energi Asia Tenggara dengan pertumbuhan permintaan dua kali lebih cepat dibanding konsumsi energi keseluruhan.

Hingga 2050, kebutuhan listrik terus meningkat dengan tambahan kebutuhan satu dekade ke depan setara total produksi listrik Jepang saat ini.

Kenaikan ini didorong pertumbuhan penduduk, ekspansi industri ringan, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, serta lonjakan kebutuhan pendingin ruangan (AC).

IEA memperkirakan jumlah AC rumah tangga di Asia Tenggara akan melonjak tiga kali lipat pada 2035 mendatang.

Saat ini, satu dari lima mobil yang terjual di Asia Tenggara merupakan kendaraan listrik dengan dukungan kebijakan yang terus diperkuat.

Urgensi Efisiensi dan Jaringan Regional

Langkah efisiensi dinilai menjadi solusi efektif jangka panjang untuk menekan krisis dan memperkuat sistem energi kawasan.

IEA juga menekankan pentingnya koordinasi regional seperti proyek ASEAN Power Grid yang menghubungkan jaringan listrik antarnegara ASEAN.

Proyek interkoneksi ini berpotensi memberikan penghematan biaya sekaligus mengamankan pasokan listrik di tingkat regional.

>>> Obligasi Perdana Danantara Indonesia Oversubscribed Lebih Tiga Kali Lipat

Dialog intensif di sektor minyak dan industri juga diperlukan untuk membantu setiap negara mengoptimalkan keunggulan domestik masing-masing.