Terus juga apabila stabilitas nilai tukar rupiah dan ekonomi domestik masih terus terjaga di tengah deeskalasi geopolitik, maka potensial aliran asing masuk atau foreign inflow secara berkelanjutan akan semakin terbuka lebar," pungkasnya.

Potensi Profit Taking dari Area Jenuh Beli

Indeks saham nasional dinilai sudah masuk dalam area jenuh jual atau oversold ketika sempat terperosok ke bawah level 5.400 beberapa waktu lalu.

Kini, pergerakan IHSG dinilai mulai memasuki fase penguatan kembali.

"IHSG sendiri memang sudah oversold di saat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.

Meski begitu, Wawan mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking.

Risiko ini bisa muncul kapan saja jika ada sentimen negatif baru yang masuk ke pasar.

Sentimen pengganggu tersebut diperkirakan bisa datang dari kembalinya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta hasil pertemuan FOMC pekan ini.

Namun, Wawan mengakui bahwa penguatan IHSG saat ini ikut ditopang oleh adanya kesepakatan damai antara kedua negara tersebut.

Kesepakatan damai ini memberikan angin segar bagi pasar karena membuka peluang beroperasinya kembali Selat Hormuz.

Hal ini berdampak langsung pada penurunan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya mampu meredakan tekanan fiskal dan beban subsidi energi bagi Indonesia.

>>> Norwegia Rebut Puncak Klasemen Grup I Piala Dunia 2026 Usai Hajar Irak 4-1

"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkasnya.