Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguasaan AI harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis.

AI, kata dia, seharusnya menjadi alat untuk mempercepat proses belajar dan berkarya, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," imbaunya.

Gibran pun menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI.

Ia mengingatkan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, maupun melanggar privasi.

"Teknologi tanpa etika itu berbahaya.

AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain," tegasnya.

Dikatakan Gibran bahwa penguasaan teknologi dan penerapan etika harus berjalan beriringan jika Indonesia ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

>>> Promo JSM Tip Top 8-10 Mei 2026: Diskon Daging, Ayam, dan Buah Segar

"Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekedar impian, tetapi sebuah kepastian," pungkasnya.