Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat akan potensi lonjakan kasus campak (rubeola) selama libur Lebaran 2026.

Tradisi berkumpul bersama keluarga dinilai dapat mempercepat penyebaran virus, terutama pada anak-anak yang belum lengkap imunisasinya.

>>> Swedia Hajar Tunisia 5-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat 13.046 orang berstatus suspek campak, dengan 10.301 di antaranya terkonfirmasi positif.

Sebanyak 8 pasien dilaporkan meninggal dunia.

Sepanjang minggu pertama hingga kedelapan tahun 2026, terjadi 45 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 29 kabupaten/kota.

Secara kumulatif, jumlah KLB mencapai 54 kasus di 37 kabupaten/kota pada 13 provinsi.

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Kemenkes menjabarkan sejumlah gejala awal campak, antara lain pilek disertai mata merah, demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, dan munculnya bintik putih kecil di rongga mulut.

>>> Elon Musk Jadi Orang Terkaya Dunia Usai IPO SpaceX, Kekayaan Tembus Rp17,7 Kuadriliun

Ruam khas campak menyebar dari wajah dan sekitar telinga ke seluruh tubuh. Pasien juga dapat mengalami batuk kering.

Virus campak sangat menular melalui percikan air liur saat bersin atau batuk, kontak langsung dengan cairan tubuh pasien, serta sentuhan pada benda yang terkontaminasi.

Langkah Pencegahan dan Imunisasi

Vaksinasi campak-rubella (MR) menjadi alat pencegahan paling efektif. Kemenkes mencatat peningkatan titer antibodi dari 10,41 persen menjadi 80,21 persen setelah penyuntikan vaksin MR.

Masyarakat dianjurkan mengikuti program imunisasi kejar untuk anak usia 9–59 bulan. Selain itu, menjaga hidrasi, menerapkan pola hidup bersih, dan menghindari kontak dengan penderita juga penting.

>>> HP OmniBook Ultra 14 Dobrak Standar Performa Grafis Laptop Ringkas

Vaksinasi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat. Intervensi medis dan pembatasan interaksi langsung menjadi kunci menekan penyebaran campak selama liburan.