"Dari sisi fundamental, buyback berpotensi meningkatkan EPS karena jumlah saham beredar berkurang.

Namun dampaknya terhadap harga saham tetap bergantung pada ukuran buyback, kondisi pasar, dan prospek bisnis masing-masing emiten," kata Elandry kepada Kontan, Senin (15/6/2026).

>>> Klaim Kode Redeem Honkai Star Rail Mei 2026 untuk Dapatkan Stellar Jade

Elandry menambahkan bahwa momentum ini sangat tepat mengingat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terkoreksi secara year-to-date.

Fenomena ini membuat banyak saham berkualitas kini diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik.

Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand memaparkan tiga dampak utama dari buyback.

Dampak tersebut meliputi munculnya permintaan non-diskresioner, sinyal harga saham di bawah nilai wajar, hingga kenaikan alami pada EPS dan ROE.

"Efektivitasnya proporsional terhadap ukuran relatif kapitalisasi.

Misalnya, ASII Rp8 triliun dan TLKM Rp 4 triliun jauh lebih material dibanding UVCR Rp1,5 miliar," ucap Abida.

Berdasarkan pilihan emiten yang ada, Elandry merekomendasikan TLKM, ASII, BBRI, dan NCKL sebagai saham yang paling menarik dicermati oleh investor.

Saham BBRI, TLKM, dan ASII diunggulkan karena aspek fundamental kokoh dan likuiditas tinggi.

Terkait target harga saham, Elandry merekomendasikan target Rp 3.300-Rp 3.500 untuk BBRI, sementara TLKM defensif dengan arus kas kuat.

Saham ASII dipatok pada target Rp 5.200-Rp 5.500, dan NCKL ditargetkan pada level Rp 1.200.

Abida turut menambahkan bahwa dana jumbo Rp 8 triliun dari ASII mencerminkan kekuatan arus kas konglomerasi tersebut.

Sedangkan alokasi Rp 4 triliun milik TLKM menjadi indikasi harga saham sedang terdiskon di tengah fase monetisasi InfraCo.

Abida merekomendasikan buy ASII di target harga Rp 6.850 sebagai top pick dengan dividend yield 8% dan buyback Rp 8 triliun sebagai downside protection terkuat.

Lalu, buy TLKM target Rp3.750.

>>> Irak Siapkan Strategi Defensif Redam Agresivitas Erling Haaland

Katalis buyback memperkuat thesis monetisasi InfraCo. Strategi terbaik adalah akumulasi bertahap memanfaatkan momentum buyback institusional ini.