Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier bersama Ibu Negara Elke Büdenbender mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta pada Senin (15/6/2026).

Kunjungan ini dilakukan setelah agenda resmi di Istana Kepresidenan.

>>> Kementerian ESDM Siapkan Kompor Listrik Model Baru untuk 2027

Mereka disambut Menteri Agama Nasaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal dan Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo.

Di Masjid Istiqlal, Presiden Jerman melihat fasilitas utama dan mencoba memukul bedug. Kemudian, ia berjalan melewati Terowongan Silaturahmi menuju Gereja Katedral.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Presiden Jerman sangat tertarik pada harmoni antara kedua rumah ibadah.

"Mereka sangat terharu melihat sebuah kota yang sangat ideal, ada dua rumah ibadah yang sangat bersahabat yang ditandai dengan adanya terowongan yang menghubungkan keduanya," ujarnya.

Pengalaman berjalan di terowongan memberikan kesan mendalam. "Di tengah-tengah ada kombinasi suara lonceng dan suara bedug.

>>> Pemprov Bengkulu Siapkan Gaji ke-13 untuk Ribuan PPPK Paruh Waktu

Ditambah ornamen-ornamen silaturahmi yang sangat indah. Itu yang membuat mereka sangat terkesan," tambah Nasaruddin.

Kawasan Istiqlal-Katedral dinilai sebagai representasi nyata keberagaman Indonesia yang jarang ditemukan di negara lain.

"Mereka sangat puas menyaksikan sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di belahan dunia lain," kata Nasaruddin.

Kardinal Ignatius Suharyo menjelaskan bahwa kedekatan lokasi kedua bangunan suci memiliki landasan historis. Pemilihan lokasi Masjid Istiqlal diputuskan Presiden Soekarno untuk menghapus simbol kolonialisme dan menghadirkan lambang toleransi.

"Relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral terus dibangun sebagai lambang bahwa kita hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia," ujar Kardinal.

>>> Pasar Kripto Global Menguat Setelah Ketegangan AS-Iran Mereda

Kunjungan ini mempertegas posisi Indonesia dalam merawat toleransi antarumat beragama.