Namun, hasil ini belum tentu sama jika diuji pada provinsi, kelompok sosial, atau kondisi ekonomi berbeda.

Sains modern menempatkan replikasi sebagai jantung kredibilitas ilmiah agar teori konsisten saat diuji di berbagai kondisi.

Sayangnya, kultur akademik Indonesia lebih menghargai publikasi cepat demi tuntutan kenaikan pangkat dan kelulusan.

Kondisi ini berbahaya karena hasil riset ekonomi sering langsung diterjemahkan menjadi kebijakan subsidi, bantuan sosial, dan pengentasan kemiskinan.

Jika riset dasarnya lemah, maka kebijakan pemerintah juga berisiko keliru.

Ketergantungan pada teori impor dari Amerika Serikat atau Eropa menjadi persoalan karena struktur ekonomi Indonesia sangat berbeda.

Sektor informal yang besar, perilaku konsumsi unik, dan ketimpangan regional membuat teori global tidak otomatis cocok.

Pemerintah perlu lebih berhati-hati menggunakan satu penelitian sebagai dasar kebijakan besar karena setiap survei memiliki bias.

>>> Biaya Mudik Jakarta-Yogyakarta Pakai Wuling Cortez Darion EV

Kemampuan ilmu ekonomi untuk mengoreksi diri melalui pengujian realitas secara terus-menerus justru menjadi kekuatan terbesarnya.