Pembersihan batin dan pikiran menjadi fokus utama, bukan sekadar fisik. Peserta dianjurkan berpuasa Senin Kamis terlebih dahulu sebagai persiapan diri.

Peserta berjumlah sekitar 35 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa. Setelah ruwatan, acara dilanjutkan dengan warangan atau penyucian pusaka untuk merawat keris.

Para peserta juga menerima wejangan sebagai pengingat untuk menjaga perilaku dan memperbaiki kualitas diri. Ernantoro menyebut ritual ini sudah berjalan sejak 1995.

Setiap peserta memaknai ruwatan secara beragam, namun mayoritas menganggapnya sebagai ajang introspeksi dan permohonan keselamatan. Sugiono, warga Sumbergirang, mengaku rutin mengikuti kegiatan ini selama empat tahun.

"Niatnya untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan tolak bala. Harapannya dijauhkan dari kesialan selama setahun ke depan," ujar Sugiono.

Abdul Wahab, warga Desa Ketangi, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia memanfaatkan malam 1 Suro untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ruwatan.

"Momentum satu Suro bagi orang Jawa memiliki makna tersendiri. Karena itu dimanfaatkan untuk membersihkan hati melalui ruwatan," kata Wahab.

>>> Timnas Spanyol Ditahan Imbang Tanjung Verde di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Ia berharap ritual ini dapat menghindarkan diri dan keluarga dari musibah maupun kesialan dalam aktivitas sehari-hari. "Istilah orang Jawa itu tolak balak," ujarnya.