Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi hingga 41,72 persen dari titik tertingginya pada Januari 2026.

Penurunan ini menjadi koreksi terdalam ketiga sepanjang sejarah pasar modal Indonesia sejak tahun 2000.

>>> Spanyol Gagal Taklukkan Tanjung Verde pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Henan Putihrai Asset Management mencatat ada delapan siklus koreksi besar sejak tahun 2000.

Per 15 Juni 2026, pergerakan indeks berada pada siklus kedelapan yang memicu penurunan tajam tersebut.

"Ketujuh siklus sebelumnya sudah selesai, dan ketujuhnya berakhir dengan cara yang sama: IHSG kembali ke puncak sebelumnya, lalu membuat puncak baru," tulis Henan Sekuritas dalam publikasi Senin (15/6/2026).

Empat Fase dalam Setiap Siklus Koreksi

Analisis Henan Sekuritas membagi setiap siklus penurunan ke dalam empat tahapan utama: descend, trough, normalization, dan recovery.

Pola ini konsisten muncul pada tujuh krisis besar yang memengaruhi pasar modal Indonesia sejak 2000.

Ketujuh peristiwa terdahulu mencakup Bom Bali 2002, Global Financial Crisis 2008, Krisis Utang Eropa 2011, Taper Tantrum 2013, Devaluasi Yuan 2015, Covid-19 2020, dan kebijakan tarif Amerika Serikat 2025.

Fase pertama, descend, berlangsung dari puncak indeks hingga menyentuh dasar penurunan.

Secara emosional, fase ini memicu keinginan kuat untuk keluar dari pasar modal, dengan durasi rata-rata 5,0 bulan.

Fase kedua, trough atau dasar pasar, menjadi momentum yang paling diincar namun paling sulit diprediksi.

Konfirmasi tahapan ini bersifat retroaktif, yakni baru sah saat indeks memantul minimal 10 persen dari penutupan terendah, dengan durasi median hanya 0,3 bulan.

Fase ketiga, normalization, merupakan perjalanan dari titik dasar menuju setengah jarak dari puncak sebelumnya.