Menerima penghasilan pertama merupakan pencapaian yang membanggakan setelah melewati masa studi atau pencarian kerja.

Namun, setelah kegembiraan mereda, pengelolaan pendapatan tersebut menjadi langkah krusial yang menentukan kebiasaan finansial di masa depan.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Rencana Pembukaan Selat Hormuz

Perencana keuangan bersertifikat, Sanjeev Govila, membagikan panduan taktis agar penghasilan awal ini memberikan dampak positif jangka panjang.

Langkah Awal: Dana Darurat

Langkah bijak pertama setelah mengantongi gaji adalah mulai mengalokasikan dana darurat, bukan menghabiskannya untuk perayaan.

Sanjeev Govila mengibaratkan dana cadangan ini seperti payung pelindung yang siap menghadapi situasi tidak terduga.

Idealnya, dana darurat harus mampu memenuhi biaya hidup selama 6 hingga 12 bulan.

Komponen dana tersebut meliputi pengeluaran esensial seperti biaya sewa, tagihan bulanan, cicilan, dan kebutuhan pokok harian.

Alokasi ini berfungsi sebagai bantalan aman apabila pekerja menghadapi krisis mendesak, termasuk pemutusan hubungan kerja atau masalah kesehatan.

Memilih Proteksi Finansial yang Sesuai

Asuransi berperan murni sebagai pelindung stabilitas keuangan, bukan instrumen untuk melipatgandakan aset.

Sanjeev Govila menggambarkan proteksi ini layaknya pengawal pribadi tidak terlihat yang baru terasa nilainya saat terjadi petaka.

Pekerja baru disarankan memulai dengan asuransi jiwa berjangka (term life insurance) bernilai 10 hingga 15 kali total pendapatan tahunan.

Selain itu, kepemilikan asuransi kesehatan dengan batas perlindungan minimal Rp100 juta juga menjadi prioritas.

Produk keuangan yang tidak efisien seperti ULIP atau endowment plan sebaiknya dihindari agar keuangan jangka panjang tidak terbebani.

Menerapkan Strategi Investasi di Usia Muda

Usia 20-an merupakan momentum emas untuk memulai investasi karena faktor waktu menjadi keunggulan terbesar.

Formula sederhana 50-30-20 dapat diterapkan untuk menjaga keseimbangan pengaturan kas bulanan.