Palpitasi adalah sensasi jantung berdenyut hebat, bergetar, atau berdebar kencang. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tetapi sering menimbulkan kekhawatiran.

Detak jantung yang meningkat bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga masalah kesehatan tertentu. Memahami penyebab dan tanda bahaya penting untuk mencegah risiko lebih lanjut.

>>> Kongo Andalkan Dua Pemain Sunderland Lintas Generasi di Piala Dunia 2026

Dokter spesialis jantung dr Deddy Hermawan Susanto, SpJP(K) menjelaskan bahwa palpitasi bisa muncul saat baru bangun tidur.

Stimulan dan ketidakseimbangan hormon menjadi pemicu utama.

"Bisa karena konsumsi kopi, kafein yang berlebih, bisa karena faktor lain dari psikis juga bisa," kata dr Deddy.

"Atau dari masalah gangguan hormon tiroid, karena peningkatan hormon tiroid juga bisa menyebabkan jantung berdebar lebih cepat, lalu beberapa kondisi tertentu misal rangsangan saraf simpatis yang tinggi," lanjutnya.

Selain itu, lonjakan detak jantung juga sering terjadi akibat olahraga, anemia, dehidrasi, atau efek samping obat-obatan.

Berdasarkan Cleveland Clinic, penyebab lain meliputi kecemasan, makanan berlemak atau pedas, posisi tidur miring, kehamilan, dan gangguan hormon tiroid.

Mayo Clinic menyebutkan bahwa palpitasi bisa menjadi indikator aritmia atau gangguan irama jantung.

Kondisi ini dapat menyebabkan detak jantung sangat cepat (takikardia), sangat lambat (bradikardia), tidak teratur, atau kombinasi ketiganya.

>>> Emam Ashour Raih Pemain Terbaik Usai Laga Belgia vs Mesir

Kapan Harus ke Dokter?

Palpitasi yang jarang muncul dan hanya berlangsung beberapa detik umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, pemeriksaan medis sangat disarankan bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dan sering merasakan gejala tersebut.

Dokter biasanya akan merekomendasikan tes pemantauan untuk memastikan apakah gejala terkait gangguan jantung serius.