Republik Islam Iran secara resmi memasuki masa duka cita nasional setelah media negara mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Tokoh yang telah memegang kekuasaan selama 37 tahun itu meninggal dunia akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

>>> Netflix Siapkan Drakor The Scandal, Duetkan Ji Chang Wook dan Son Ye Jin

Pemerintah Iran merespons dengan menetapkan hari berkabung nasional selama 40 hari berturut-turut.

Selain itu, otoritas setempat juga memberlakukan libur kerja publik selama 7 hari penuh sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas status mendiang sebagai martir atau syahid.

Masa duka cita nasional di Iran merupakan instrumen resmi yang diterbitkan pemerintah untuk menghormati kepergian figur krusial negara.

Penghormatan ini ditujukan bagi Pemimpin Tertinggi, presiden, atau pemuka agama besar.

Masyarakat Iran yang mayoritas menganut Islam Syiah Twelver memiliki ritual berkabung yang dipengaruhi kuat oleh doktrin keagamaan dan kebudayaan Persia.

Periode ini diisi dengan aktivitas doa bersama, prosesi massal, dan penghormatan kolektif di seluruh negeri.

Masa berkabung selama 40 hari dikenal dengan istilah Chehelom dalam bahasa Persia atau Arba'een dalam terminologi Arab.

Hari ke-40 menjadi tanda berakhirnya fase berkabung intensif sebelum masyarakat kembali beraktivitas normal secara bertahap.

>>> Samsung Galaxy A36 5G Turun Harga Signifikan per April 2026

Tahapan Upacara dan Ritual Penghormatan

Konfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 langsung diikuti dengan pengibaran bendera setengah tiang di berbagai wilayah.

Pemerintah juga membatasi segala bentuk acara hiburan publik selama masa duka berlangsung.

Warga di berbagai kota besar, termasuk Teheran dan Mashhad, menggelar prosesi duka massal di jalan-jalan protokol.

Mereka membawa foto Pemimpin Tertinggi disertai dengan pembacaan doa dan tangisan sebagai wujud solidaritas umat serta kesetiaan kepada pemimpin.

Dalam tradisi Syiah di Iran, terdapat beberapa tahapan ritual pasca-kematian yang puncaknya berada pada hari ke-40.

Selain upacara kecil pada hari ke-3 dan ke-7, momen ke-40 diisi dengan ziarah kubur, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, serta sedekah makanan.

Tradisi duka cita 40 hari ini sangat menonjol di kalangan Syiah Iran karena merefleksikan peringatan tahunan Arba'een Imam Husain di Karbala.

>>> Uruguay Terkendala Dokumen Jelang Lawan Arab Saudi di Piala Dunia 2026

Selama masa ini, keluarga dekat biasanya mengenakan pakaian hitam dan menghindari aktivitas yang bersifat riang atau perayaan pernikahan.