Ibnu Hajar berpendapat bahwa orang yang melakukan puasa qadha bisa mendapatkan pahala puasa sunah sekaligus jika turut meniatkannya.

Imam Romli menyatakan pahala puasa sunah tetap didapat otomatis selama qadha dilakukan pada hari anjuran puasa sunah, sedangkan Abu Makromah berpendapat kedua niat tidak bisa digabungkan.

Lafaz Niat Puasa Muharram dan Qadha

Berikut lafaz niat puasa Muharram dari hari ke-1 sampai ke-8: "Nawaitu shaumal Muharrami lilâhi ta'âlâ" (Saya niat puasa Muharram karena Allah ta'âlâ).

Bagi yang melaksanakan puasa Tasua pada 9 Muharram, niatnya: "Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatit Tasû'â lillâhi ta'âlâ" (Aku berniat puasa sunah Tasu'a esok hari karena Allah SWT).

Niat puasa Asyura pada 10 Muharram: "Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta'âlâ" (Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT).

Untuk mengqadha puasa Ramadan di bulan Muharram, niat yang diutamakan adalah niat puasa wajib: "Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ" (Aku berniat mengqadha puasa Ramadan esok hari karena Allah Swt).

>>> 5 Rekomendasi Kulkas 1 Pintu Watt Rendah Hemat Listrik

Puasa Muharram juga boleh digabungkan dengan puasa Senin Kamis jika jatuh pada hari yang sama. Penggabungan dua amalan sunah ini dinilai sah dan mendatangkan pahala dari kedua ibadah.

Pandangan ini didukung oleh ulama fikih Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyu wa Adillatuhu.

Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' juga menerangkan bahwa penggabungan dua niat untuk amalan sunah merupakan praktik yang diterima dalam mazhab Syafi'i.

Lafaz niat puasa Senin: "Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta'âlâ" (Aku berniat puasa sunah hari Senin karena Allah ta'âlâ).