>>> IHSG 15 Juni 2026 Melesat 3,48 Persen di Awal Perdagangan

Di pasar valuta asing, rupiah menguat lebih dari 1 persen ke posisi Rp 17.680 per dolar AS yang merupakan level terkuat sejak 22 Mei 2026.

Won Korea Selatan bergerak di kisaran 1.513,3 setelah sempat menyentuh 1.503,9 per dolar AS.

Meredanya risiko inflasi ini diperkirakan melonggarkan tekanan terhadap sejumlah bank sentral Asia yang akan menggelar rapat kebijakan moneter pekan ini.

Negara yang akan menentukan suku bunga termasuk Indonesia, Filipina, dan Taiwan.

Analisis dari tim ekonom Barclays yang dipimpin oleh Brian Tan mengindikasikan bahwa kemerosotan harga minyak berpotensi meredam inflasi sekaligus mengurangi risiko hambatan ekonomi akibat lonjakan harga energi sebelumnya.

"Hal ini dapat mendorong bank sentral untuk menunda langkah kebijakan berikutnya dan memberikan waktu lebih banyak untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum melakukan pengetatan lebih lanjut," tulis Barclays dalam risetnya.

Di sisi lain, sejumlah pengamat pasar memberikan peringatan bahwa efek kenaikan harga dari konflik yang terjadi beberapa bulan lalu kemungkinan masih akan bertahan dalam jangka pendek.

Head of Asia Macro Strategy SMBC, Jeff Ng menyatakan bahwa saat ini masih terlalu awal untuk menyimpulkan adanya ruang longgar bagi bank sentral di Asia dalam memulai pemangkasan suku bunga.

"Inflasi kemungkinan tetap berada pada level moderat, tetapi dampak kenaikan harga selama beberapa bulan terakhir masih akan terasa.

Karena itu, masih terlalu cepat untuk mengharapkan pelonggaran kebijakan moneter di Asia," ujar Jeff Ng.

>>> Umat Islam Dianjurkan Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Fokus para pelaku pasar pada pekan ini selanjutnya tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve AS yang dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni mendatang di bawah pimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.