PT Sokonindo Automobile tetap optimistis mengembangkan fasilitas produksi dan kendaraan listrik di Indonesia meskipun persaingan industri otomotif nasional semakin ketat.

Direktur Utama PT Sokonindo Automobile Alexander Barus mengatakan keyakinan terhadap prospek pasar domestik menjadi landasan utama perusahaan dalam mengembangkan fasilitas produksi sejak awal beroperasi.

>>> Fitur Esensial Pendukung Lebih Penting dari Sekadar Prosesor Saat Memilih Laptop Produktivitas

"Dari mana pemasukan kita? Pasar domestik, pasar ekspor.

Mungkin beda dengan pabrikan yang lain. Kami investasi itu 150 juta dollar AS (sekitar Rp 2,1 triliun, kurs rupiah pada 2017).

Belum ada pemasukan di pabrik Cikande. Tapi dengan keyakinan itu kita bisa lakukan," kata Alexander.

DFSK menjadi salah satu produsen otomotif asal China yang mendahului langkah menanamkan modal di Indonesia.

Chief Operating Officer PT Sokonindo Automobile Franz Wang memaparkan, operasional pabrik di Cikande, Banten, dimulai sejak 2017 dan terus mengalami peningkatan kapasitas.

"Kita salah satu yang pertama investasi 2017. Setiap tahun ada investasi dan upgrade," ujar Franz.

Pada fase awal, DFSK memfokuskan lini produksi pada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) untuk menyuplai kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Strategi bisnis DFSK mulai bergeser sejalan dengan tren industri otomotif global yang mengarah pada segmen kendaraan energi baru (NEV).

Proses transisi teknologi ini diterapkan secara bertahap dalam beberapa tahun belakangan.

>>> RSoccer Training Camp Juarai Future Star Competition 2026

"Yang pertama lima tahun kami produksi di sini ICE. Setelah 2022 atau 2023, kita putuskan harus transformasi di Indonesia.

Dari ICE ke NEV. Tapi kita harus bertahap, step by step," kata Franz.

Perubahan arah bisnis ini ditandai dengan peluncuran berbagai model elektrifikasi dari DFSK dan Seres bagi konsumen di Indonesia.