Pihak penggugat juga menuntut penghentian praktik menyesatkan serta kewajiban memberikan peringatan risiko yang jelas pada produk.

"Masyarakat telah dirugikan dan para orang tua dikelabui," kata James Uthmeier dalam konferensi pers pada Senin.

Menurutnya, OpenAI wajib membayar sanksi dan melakukan perbaikan sistem, termasuk menyediakan fitur kontrol orang tua yang lebih ketat.

Menanggapi tuntutan tersebut, OpenAI menyatakan memahami bahwa AI adalah teknologi baru dengan dampak masif yang memerlukan sistem pengamanan ketat, khususnya bagi remaja.

Perusahaan mengklaim telah memasang berbagai fitur keselamatan yang disesuaikan untuk pengguna muda.

Juru bicara OpenAI juga memberikan tanggapan mengenai kasus tragis yang menimpa anak-anak dan keluarga dalam gugatan tersebut.

Menurut pihak perusahaan, kehilangan seorang anak merupakan tragedi menyakitkan yang tidak dapat digantikan oleh kata-kata.

OpenAI menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan ini secara tepat dan terus meningkatkan sistem proteksi produk.

Perusahaan menegaskan bahwa seluruh platform mereka sejak awal dirancang agar aman digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada November tahun lalu, OpenAI juga sempat merespons gugatan terkait isu kesehatan mental.

>>> Danantara Naikkan Penerbitan Obligasi Internasional Jadi US$ 1,5 Miliar

Saat itu, perusahaan menyatakan telah memiliki mekanisme perlindungan khusus untuk mengarahkan pengguna remaja ketika percakapan mulai menyentuh topik sensitif.