Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan signifikan pada akhir perdagangan Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,85 persen ke posisi Rp 17.708 per dolar AS.

>>> Pidato Haru Wisudawati UWN Palu Kenang Orang Tua Viral di TikTok

Pada sesi perdagangan, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.673,5 atau menguat 1,04 persen sekitar pukul 11.26 WIB.

Dua Faktor Utama Penguatan Rupiah

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyebut ada dua faktor utama yang mendorong penguatan rupiah.

Faktor pertama adalah reaksi positif pasar terhadap kesepakatan damai antara AS dan Iran yang menurunkan harga minyak mentah global.

Penurunan harga minyak menguntungkan Indonesia sebagai net importir minyak dan meredam kekhawatiran inflasi.

"Kesepakatan damai AS-Iran dan dibukanya Selat Hormuz menurunkan permintaan dolar AS sebagai safe-haven dan mendorong Indeks Dolar (DXY) ke area 99,5," kata Sutopo.

Faktor kedua adalah respons kebijakan Bank Indonesia yang agresif menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sejak Mei lalu.

Langkah ini menjaga daya tarik imbal hasil investasi aset domestik dan memperkuat ketahanan rupiah.

"Tanpa kenaikan suku bunga yang mendahului kurva, rupiah tidak akan memiliki pijakan kuat memanfaatkan pelemahan dolar AS," ujar Sutopo.

>>> 5 Cara Ubah Pola Pikir untuk Membangun Kekayaan Menurut Studi Psikologi

Kepastian hukum sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga turut mengembalikan kepercayaan investor global.

Kombinasi tekanan eksternal yang mereda dan fundamental domestik yang kuat menciptakan ruang likuiditas bagi penguatan rupiah.

Proyeksi Reli Rupiah ke Rp 17.500

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih berpotensi melanjutkan reli ke level Rp 17.500 per dolar AS pekan ini.