Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$439,8 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar US$433,9 miliar.

Pertumbuhan ULN tercatat 1% secara tahunan. Persentase ini lebih rendah dari pertumbuhan Maret 2026 yang mencapai 1,9%.

>>> Jerman dan Swedia Pimpin Klasemen Piala Dunia 2026 Usai Pesta Gol

Kenaikan utang menunjukkan Indonesia masih menambah pembiayaan dari pihak eksternal. Langkah ini diambil di tengah kebutuhan pembiayaan fiskal domestik yang tinggi.

Sektor Publik Dominasi Kenaikan Utang

Sektor publik, termasuk pemerintah dan bank sentral, menjadi kontributor terbesar dalam lonjakan ULN. Posisi utang pemerintah naik menjadi US$216,4 miliar pada April 2026.

Hampir seluruh pertumbuhan utang Indonesia saat ini disumbang sektor pemerintah.

Dalam enam bulan terakhir, tambahan utang pemerintah mencapai US$6,6 miliar dari posisi November 2025 sebesar US$209,8 miliar.

Penambahan tersebut menyumbang lebih dari 44% dari total kenaikan ULN selama periode yang sama.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), komposisi utang valas RI pada April 2026 terdiri dari beberapa sektor utama.

Porsi pemerintah tercatat 49,2% dengan nilai US$216,4 miliar, naik 3,7%.

Sementara porsi BI berada di angka 6,9% senilai US$30,2 miliar, naik 7,5%.

Sektor swasta memegang porsi 43,9% dengan nilai US$193,2 miliar. Nilai utang swasta justru turun 0,7%.

Komposisi utang valas swasta terdiri dari institusi keuangan seperti perbankan senilai US$32 miliar dan lembaga non-bank senilai US$5 miliar.

Utang Bank Indonesia Tumbuh Agresif

Utang BI mencatat pertumbuhan tahunan 7,5%, berbalik dari kontraksi yang terjadi Oktober 2025 hingga Februari 2026. Posisi ini mencerminkan langkah agresif BI dalam intervensi.

Intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gejolak rupiah sepanjang kuartal pertama hingga kedua 2026 mendorong BI menarik minat investor asing.