Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik Jadi US$439,8 Miliar
BI berupaya menjaring modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Imbal hasil SRBI meroket ke level tertinggi 7,57% pada lelang Rabu (10/6/2026).
Berbeda dengan BI, sektor perbankan terus memangkas eksposur utang luar negeri. Posisi ULN perbankan terkoreksi 6,7% secara tahunan menjadi US$32 miliar.
>>> Harga Emas Antam 20 September 2025 Naik Rp 32.000 Jadi Rp 2.122.000 Per Gram
Korporasi non-bank masih mendominasi sebagai peminjam terbesar dengan nominal US$156,2 miliar atau 81% dari total ULN swasta.
Kelompok ini didominasi perusahaan non-keuangan.
Sektor non-keuangan yang paling banyak menarik utang valas meliputi industri pengolahan US$52,36 miliar (29,8%), pengadaan listrik dan gas US$36,04 miliar (9,8%), serta pertambangan US$27,9 miliar (7,5%).
Sektor jasa keuangan juga mencatat kenaikan ULN menjadi US$11,46 miliar pada April 2026, naik dari US$10,20 miliar sebelumnya.
Struktur ULN Indonesia didominasi utang jangka panjang dengan porsi 84,5%. Karakteristik ini membuat tekanan pembayaran utang tahunan relatif lebih ringan.
Rasio utang terhadap PDB berada di level 29,6%, masih aman. Batas kerentanan negara berkembang menurut IMF dan Bank Dunia adalah 50% hingga 70% terhadap PDB.
Meski rasio utang aman, ada sinyal yang perlu diwaspadai. Bloomberg Economics memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 5% pada kuartal II-2026 dari sebelumnya 5,61%.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan bertahan 5% pada kuartal III-2026, lalu melambat menjadi 4,69% pada kuartal IV-2026. Jika perlambatan terjadi sementara utang tumbuh lebih cepat, rasio ULN berisiko naik.
Volatilitas rupiah juga menambah kerentanan posisi ULN. Pembiayaan saat ini lebih bertumpu pada pasar obligasi daripada pinjaman bilateral.
Utang bilateral pemerintah menyusut 28,37% sejak 2020 dari US$23,66 miliar menjadi US$16,59 miliar pada April 2026.
Sebaliknya, utang SBN internasional melonjak 21,92% menjadi US$94,73 miliar.
Kepala Ekonom Josua Pardede menyebut risiko terbesar ULN berasal dari kombinasi pelemahan rupiah, suku bunga global tinggi, penurunan cadangan devisa, surplus perdagangan menipis, dan kebutuhan pembayaran utang yang besar.
"Jika faktor-faktor ini terjadi bersamaan, tekanan terhadap ketahanan eksternal bisa meningkat meskipun rasio ULN terhadap PDB masih terlihat aman," kata Josua.
>>> FIFA Investigasi Wasit Shaun Evans Terkait Dugaan Gestur Rasial
Pemerintah dan BI diharapkan mengarahkan pemanfaatan ULN ke sektor produktif dan berjangka panjang. Pemantauan risiko valas korporasi juga harus diperketat oleh BI dan OJK.
Update Terbaru
Pengendara Nekat Melawan Arus Hadapi Sanksi Denda dan Pidana Kurungan
Selasa / 16-06-2026, 00:14 WIB
TVRI Sulteng Gelar Nobar Piala Dunia 2026 di Lapangan Vatulemo
Selasa / 16-06-2026, 00:14 WIB
Kiaton Bagikan Inspirasi Ucapan Jumat Agung 2026 Penuh Makna
Selasa / 16-06-2026, 00:14 WIB
Rafael van der Vaart Kritik Tajam Virgil van Dijk Usai Imbang Lawan Jepang
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
Kode Redeem FF 8 Mei 2026: Kesempatan Klaim Diamond Gratis
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
Ipswich Town Pertahankan Elkan Baggott untuk Premier League 2026/2027
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
Mengenal Tiga Hari Peringatan Unik Global pada 27 Februari
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
Persis Solo Resmi Tunjuk Ricky Nelson sebagai Pelatih Kepala Baru
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
Spanyol Ditahan Imbang Tanjung Verde Tanpa Gol pada Babak Pertama
Selasa / 16-06-2026, 00:12 WIB
BNI dan BCA Sesuaikan Jadwal Operasional Libur Tahun Baru Islam 2026
Selasa / 16-06-2026, 00:09 WIB
Mansory Siapkan Paket Soft Kit untuk Lamborghini Urus SE, Tenaga Tembus 1.085 HP
Selasa / 16-06-2026, 00:09 WIB
Riset Prasetiya Mulya Ungkap Fenomena AI Citation Gap yang Rugikan Brand
Selasa / 16-06-2026, 00:08 WIB
Leo/Daniel Tembus Final Thailand Open 2026, Tantang Ganda India
Selasa / 16-06-2026, 00:08 WIB
PT Citra Nusantara Gemilang Tbk Targetkan Pendapatan Rp 879 Miliar pada 2026
Selasa / 16-06-2026, 00:08 WIB






