Riset terbaru dari Universitas Prasetiya Mulya mengungkap fenomena AI Citation Gap yang berpotensi mengubah strategi pemasaran digital perusahaan.

Penelitian berjudul AI Citation Audit ini menemukan bahwa kecerdasan buatan (AI) sering merekomendasikan suatu merek, tetapi kutipan informasinya justru berasal dari sumber lain, bukan website resmi perusahaan.

>>> Leo/Daniel Tembus Final Thailand Open 2026, Tantang Ganda India

Dedy Budiman, M. Pd.

, Doctoral Candidate Universitas Prasetiya Mulya sekaligus praktisi pengembangan sales, menyoroti perubahan perilaku konsumen yang beralih dari mesin pencari konvensional ke AI untuk mendapatkan jawaban instan.

Melalui audit terhadap Google AI Mode dengan 32 responden dan 16 prompt standar di sektor properti, riset mengumpulkan 1.842 URL dari 222 domain unik.

Hasilnya mengejutkan: website resmi brand sering dilewati. AI lebih banyak mengutip media sosial, marketplace, blog komparatif, hingga situs internasional.

Bahkan, 61,8 persen sumber yang dikutip berasal dari domain non-Indonesia.

Akar masalahnya terletak pada kesenjangan konten.

Banyak website resmi perusahaan hanya berfungsi sebagai katalog digital yang kaku, padahal konsumen mengajukan pertanyaan spesifik yang membutuhkan edukasi mendalam.

"Konsumen tidak selalu mencari nama seri produk.

Mereka bertanya mana yang terbaik, apa perbedaannya, bagaimana memilih yang tepat, berapa kisaran harganya, atau apa keunggulannya dibanding pilihan lain.

>>> PT Citra Nusantara Gemilang Tbk Targetkan Pendapatan Rp 879 Miliar pada 2026

Jika pertanyaan seperti itu tidak dijawab oleh website resmi, AI akan mencari jawabannya di tempat lain," ungkap Dedy.

Solusi AI Visibility Optimization

Sebagai solusi, Dedy memperkenalkan pendekatan AI Visibility Optimization (AIVO).

Berbeda dengan SEO yang fokus agar website ditemukan mesin pencari, AIVO memastikan merek dipahami dan direpresentasikan secara akurat oleh sistem AI melalui konten edukatif yang komprehensif.