Harga minyak mentah dunia anjlok tajam pada Senin (15/6/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara untuk mengakhiri konflik di Teluk Persia.

Minyak mentah Brent terpelanting hampir 5 persen menuju kisaran US$83 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot mendekati US$80 per barel.

>>> Swedia Bantai Tunisia 5-1 di Piala Dunia 2026, Tekan Belanda di Grup F

Kesepakatan politik ini memicu ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat pekan ini, meredakan kecemasan global terkait pasokan energi.

Konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari 2026 sebelumnya sempat melambungkan harga energi setelah AS dan Israel menyerang Iran, yang dibalas Teheran dengan memblokir jalur pelayaran vital tersebut.

Meskipun pasar merespons positif, para pelaku pasar dan analis tetap bersikap hati-hati karena detail pengumuman resmi masih minim.

Pemulihan total arus pelayaran menghadapi kendala teknis seperti pembersihan ranjau laut, serta membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi ladang minyak di Teluk Persia untuk beroperasi normal kembali.

Penurunan juga melanda kontrak berjangka gas alam Eropa sebesar 5,8 persen, sedangkan komoditas emas dan tembaga justru menguat akibat melemahnya dolar AS.

Di pasar Singapura pukul 11.07 pagi, minyak Brent pengiriman Agustus turun 4,7 persen ke level US$83,23 per barel, dan WTI kontrak Juli merosot 5,5 persen menjadi US$80,23 per barel.

Kepala penelitian di Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, menilai pasar masih harus mencermati implementasi nyata dari kesepakatan sementara ini di lapangan.

>>> Cara Aktivasi SPayLater di Shopee dan ShopeePay untuk Belanja

"Kita masih perlu memahami apa arti kesepakatan itu," kata Chris Weston.