Kemampuan menjaga pangsa pasar sangat bergantung pada adaptasi perusahaan terhadap perubahan tren dan preferensi konsumen.

"Apabila Perseroan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tren dan preferensi konsumen atau tidak dapat menjaga daya saing dibandingkan kompetitor, hal tersebut dapat berdampak negatif terhadap penjualan, pangsa pasar, serta kinerja usaha perseroan," lanjut manajemen.

Pada sisi operasional, risiko gangguan produksi mencakup kerusakan mesin, kecelakaan kerja, gangguan teknis, terhentinya utilitas air dan listrik, hingga cuaca ekstrem dan force majeure.

Inaco juga menyoroti risiko logistik mengingat produk mereka dipasarkan di berbagai wilayah Indonesia serta pasar internasional.

Perusahaan turut mencantumkan risiko reputasi, citra merek, lingkungan, kualitas bahan baku, teknologi, penjualan, keterbatasan sumber daya, hingga investasi korporasi yang berpotensi tidak mencapai target pengembalian.

Regulasi Pemerintah dan Risiko Pasar Modal

Dari sisi regulasi, Inaco memiliki ketergantungan tinggi terhadap kebijakan pemerintah, khususnya mengenai pengadaan gula sebagai salah satu bahan baku utama.

"Perseroan bergantung pada ketersediaan bahan baku utama, yaitu gula, yang pengadaannya tunduk pada pengaturan pemerintah, termasuk kuota, perizinan, dan sumber pasokan," ujar manajemen Inaco.

Aktivitas ekspor Inaco juga berpotensi terdampak perubahan aturan perdagangan, standar keamanan produk, persyaratan sertifikasi, ketentuan pelabelan, hingga pembatasan impor di negara tujuan.

Terkait tata kelola, investor perlu memperhatikan bahwa perusahaan masih akan dikendalikan oleh PT Niramas Utama Internasional selaku pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 73,92% setelah IPO.

Bagi investor, fluktuasi harga saham pasca-IPO menjadi risiko tersendiri mengingat volatilitas pasar modal Indonesia cenderung lebih tinggi dibandingkan pasar negara maju.

>>> PT Niramas Utama Tbk Bersiap IPO, Target Dana Rp 392 Miliar

Inaco mengingatkan bahwa pencatatan di BEI tidak menjadi jaminan ketersediaan likuiditas perdagangan saham di pasar sekunder secara otomatis.