Perusahaan juga mendiversifikasi portofolio produk menggunakan bahan alami seperti aloe vera dan konnyaku. Langkah inovasi ini disesuaikan untuk menangkap momentum tren konsumsi pangan sehat yang diminati konsumen global.

Pemasaran domestik ditopang oleh 251 titik distribusi yang tersebar di wilayah Indonesia.

Di pasar internasional, produk INACO telah menembus Jepang, China, India, Thailand, Australia, Kanada, hingga Amerika Serikat, dengan target ekspansi berikutnya ke Afrika dan Eropa pada tahun 2026.

Kinerja Keuangan dan Alokasi Dana IPO

Berdasarkan dokumen prospektus awal, perseroan menunjukkan performa profitabilitas positif sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan mencatatkan efisiensi biaya operasional yang mampu mendongkrak perolehan laba bersih secara signifikan.

Nilai penjualan JELI pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp753,05 miliar, terkoreksi 4,5% dari perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp788,43 miliar.

Namun, laba bruto perseroan justru naik menjadi Rp290,78 miliar dari posisi sebelumnya Rp259,61 miliar.

Laba bersih perusahaan melonjak tajam sebesar 219,7% secara tahunan menjadi Rp39,36 miliar pada tahun 2025, dibandingkan raihan tahun 2024 yang senilai Rp12,31 miliar.

Lonjakan ini dipicu oleh penurunan beban keuangan serta efisiensi di pos biaya produksi.

Total aset JELI ikut tumbuh dari Rp522,60 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp552,11 miliar pada akhir tahun 2025.

Sektor ekuitas mengalami kenaikan 22,8% menjadi Rp145,52 miliar seiring menebalnya saldo laba perusahaan yang menyentuh Rp52,62 miliar.

Seluruh dana hasil IPO akan dialokasikan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung rencana ekspansi usaha.

>>> Enam Aplikasi Android Berbahaya yang Harus Segera Dihapus

Porsi terbesar, yaitu 51,04%, akan disalurkan sebagai setoran modal untuk anak usaha PT NPS yang difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi, khususnya pengadaan mesin baru pembuat gummy candy dan jelly.