Ribuan suporter sepak bola Skotlandia membanjiri kota Providence, Rhode Island, menjelang laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026 melawan Haiti di Stadion Gillette, Massachusetts, pada Sabtu.

Langkah ini diambil untuk menyiasati tingginya biaya akomodasi di Boston yang melonjak lebih dari 300 persen.

>>> Aksi Tiup Bagpipe Suporter Skotlandia Viral di Piala Dunia 2026

Para pendukung yang tergabung dalam Tartan Army beralih ke wilayah selatan yang menawarkan harga penginapan dan Airbnb jauh lebih terjangkau.

Tim nasional Skotlandia lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun terakhir.

Pemilik restoran Skotlandia The Haven di Boston, Jason Waddleton, mengonfirmasi antusiasme luar biasa dari para penggemar yang tetap ceria meski tim mereka menghadapi grup berat bersama Brasil, Maroko, dan Haiti.

"There is a term, ‘No Scotland, no party,’ We’re gonna have kilts, smiling faces and a lot of great people," kata Jason Waddleton.

Atmosfer positif yang dibawa oleh para pendukung berbaju tradisional Highland ini dinilai mampu memberikan impresi yang baik selama turnamen berlangsung di Amerika Serikat.

Direktur Pemasaran VisitScotland, Jill Walker, mengatakan Tartan Army menjadi contoh sambutan hangat Skotlandia yang mendunia.

"The Tartan Army epitomize our world-renowned warm Scottish welcome, which can help us break through the noise.

We hope they will once again light up the international stage and leave a lasting impression," ujar Jill Walker.

Tingginya biaya perjalanan ke Amerika Serikat sempat memicu kekhawatiran mengenai kondisi finansial para suporter yang memaksakan diri datang.

>>> Real Madrid Perpanjang Kontrak Brahim Diaz hingga 2030

Pendiri pendamping Scottish Football Supporters Association (SFSA), Paul Goodwin, mengatakan banyak suporter yang mengambil hipotek kedua atau membebani kartu kredit.