Menurut Vivi Sutardi, HR Head Endress+Hauser Indonesia, program beasiswa ini merupakan kali kedua dan ditargetkan menjadi agenda rutin.

>>> Studi Ungkap Alasan Makan Keju Sebelum Tidur Picu Mimpi Buruk

"Kami ingin kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin.

Selain melibatkan dunia pendidikan, kegiatan ini juga menghadirkan pelanggan kami sehingga mereka dapat melihat secara langsung berbagai program dan kontribusi yang telah dilakukan oleh Endress+Hauser," ujarnya.

Pihak pelanggan juga mendapatkan kesempatan langsung untuk merekrut talenta berbakat dari program magang.

"Bagi kami, merupakan sebuah pencapaian ketika pelanggan mempercayai lulusan program ini untuk bergabung di perusahaan mereka," tutur Vivi Sutardi.

Tantangan dan Peluang Talenta Masa Depan

Diskusi dalam Education Forum 2026 dibagi menjadi dua sesi utama.

Sesi pertama mengangkat tema "Dual Vocational as a Strategic Anchor in Times of Uncertainty" yang membahas peran strategis pendidikan vokasi ganda di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sesi ini dimoderatori oleh Josef Tschoep (Technical Advisor Swiss Skills for Competitiveness) dengan menghadirkan Violette Rupanner (Head of Economic Cooperation and Development/SECO, Kedutaan Besar Swiss), Dr. Henry Chia, Prof. Dr.-Ing.

Yul Yunazwin Nazaruddin (ITB), Safri Sutanto (Didactic Manager FESTO Indonesia), dan Georgios Badaro (CEO Nestlé Indonesia).

Sesi kedua mengusung tema "AI and the Future of Work: Rethinking Vocational Talent Development" yang membahas dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja.

Madhav Raskar (Country Sales Manager Solution Business APAC Endress+Hauser) memandu sesi yang dihadiri Denny Galant (Country Head of Android Platforms & Ecosystems Google Indonesia), Adi Darmadi (Country Manager Rockwell Automation), Eryanto (President Director Syngenta Indonesia), Prof. Dr. Ing.

Yuliadi Erdani, M. Sc.

>>> KemenPU Luncurkan Buku 'Menjawab Mandat' untuk Dokumentasikan Capaian Infrastruktur

, IPU (Ketua Senat Politeknik Manufaktur Bandung), Fery Andika (alumni magang), serta Christopher Balck (mahasiswa magang dari University of Applied Sciences Jena, Jerman).