Perekonomian Inggris mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada April 2026. Ini merupakan penurunan bulanan pertama sejak Agustus 2025.

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris melaporkan bahwa konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Perang tersebut mendorong lonjakan biaya operasional perusahaan secara signifikan.

>>> PPPK Paruh Waktu Tetap Terima Gaji ke-13 Tahun 2026

Salah satu faktor utamanya adalah pembengkakan ongkos energi akibat tingginya harga minyak dunia. Hal ini menggerus omzet para pelaku usaha di Inggris.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz sejak perang pecah membuat harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 120 per barel.

Fluktuasi harga komoditas global ini langsung berdampak pada kenaikan harga BBM jenis bensin dan solar di Inggris.

>>> FIFA Bantah Manipulasi Data Penonton Piala Dunia 2026

Kepala ekonom di KPMG UK, Yael Selfin, mengatakan bahwa konsumen bersiap menghadapi kenaikan tajam tagihan energi. Akibatnya, mereka cenderung mengurangi pembelian dan menambah tabungan, yang membebani aktivitas ekonomi.

Selfin menambahkan bahwa permintaan domestik yang lesu membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan biaya lebih tinggi kepada konsumen. Hal ini kemungkinan akan menekan margin keuntungan bisnis.

Meskipun terjadi kontraksi bulanan, para ekonom memperkirakan struktur ekonomi nasional tetap dapat tumbuh lebih kuat setelah melewati fase pelemahan.

>>> Jendela360 Perkuat Layanan Property Management Apartemen

Bank of England diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan demi stabilitas.