Mereka adalah Thom Haye, Jordi Amat, Eliano Reijnders, serta Mauro Zijlstra.

"Pertama tetap kompetitif, yang kedua dulu pun kita enggak pernah ribut soal materi pemain diaspora atau naturalisasi. Targetnya tetap juara.

Sejak AFF itu bergulir, targetnya juara," kata Tommy Welly di kanal YouTube tvOneNews.

"Meski enggak perlu dinyatakan, John Herdman diplomasinya selalu bilang, 'Saya akan hadapi satu pertandingan ke pertandingan berikutnya'.

Namun, pasti dia ingin juara juga karena itu juga akan menumbuhkan sebuah kepercayaan diri yang besar menuju November dan Piala Asia pada awal 2027," imbuh pengamat yang akrab disapa Towel.

"Karena sejak AFF ini ada targetnya selalu juara. 2000 runner-up, 2002 runner-up, 2004 runner-up, 2010 runner-up, 2016 runner-up, dan 2020 juga runner-up.

>>> Timnas AS Cetak Sejarah Baru di Piala Dunia 2026

Enam kali kita runner-up."

Towel juga memberikan kritik terhadap kebijakan pada edisi sebelumnya. Saat era Shin Tae-yong, Indonesia memilih menurunkan skuad U-23 pada Piala AFF 2024, yang dinilainya kurang tepat.

"Konsepsi yang salah kan. Piala AFF turunin U-23 gitu.

Menurut saya konsepsi yang salah gitu loh."

Mengenai langkah John Herdman yang kini memaksimalkan pemain dari kompetisi domestik, Towel memandang keputusan tersebut sudah benar karena tetap menjaga kualitas tim senior.

"Domestik termasuk misalnya Thom Haye di sana ada, ada pemain naturalisasi lainnya juga. Kompetitif pemain seniornya."

Strategi Menambal Posisi Penyerang Tengah

Terkait kendala Timnas Indonesia yang belum menemukan penyerang murni atau pemain nomor 9 tangguh, Towel menegaskan hal itu menjadi tugas utama John Herdman sebagai pelatih kepala.

Herdman dituntut memaksimalkan komposisi pemain yang ada, terutama barisan gelandang kreatif, guna menutup kelemahan di lini depan.