Banyak perusahaan saat ini berlomba mengadopsi kecerdasan buatan untuk berbagai kebutuhan operasional sehari-hari.

Mereka kerap mengandalkan satu layanan kecerdasan buatan tunggal guna menangani seluruh aktivitas krusial.

>>> Windows 11 bajakan diabaikan Microsoft? Ini fakta fitur KMS

Aktivitas tersebut mencakup proses pembuatan dokumen, penulisan kode program, hingga analisa data mendalam.

CEO Microsoft Satya Nadella memberikan pandangan berbeda terkait fenomena penggunaan teknologi tersebut.

Ia menilai strategi mengandalkan satu vendor tunggal justru berpotensi menjadi bumerang bagi kelangsungan bisnis.

Pernyataan tersebut disampaikan Nadella dalam wawancara khusus di acara CNN Fareed Zakaria GPS.

Menurut Nadella, organisasi bisnis yang sepenuhnya bergantung pada satu penyedia tidak akan mampu bertahan.

Perusahaan diingatkan agar tidak hanya mengamankan data mereka dari ancaman luar.

Seluruh riwayat penggunaan, konteks, metadata, serta prompt juga wajib dijaga ketat.

Informasi penting itu bisa dimanfaatkan untuk melatih model mandiri milik perusahaan.

Informasi tersebut minimal harus tetap berada di bawah kendali penuh internal perusahaan.

Nadella bahkan menegaskan bahwa entitas yang kehilangan kendali berarti telah mengalihdayakan cara berpikir mereka.

>>> Unggahan Peringatan Pernikahan Istri Justin Baldoni Diduga Menyindir Blake Lively

Teknologi kecerdasan buatan seharusnya berfungsi sebagai alat bantu operasional.

AI sama sekali tidak boleh mengambil alih seluruh proses berpikir inti di dalam organisasi.

Nadella menyarankan agar korporasi tidak mengunci infrastruktur mereka pada satu model tunggal.

Perusahaan sebaiknya membangun sistem yang mendukung penggunaan berbagai model sekaligus.

Pemanfaatan model bisa disesuaikan dengan kebutuhan spesifik di lapangan.

Contoh penerapannya meliputi ChatGPT untuk penulisan dan Claude untuk penulisan kode.

Model open source bisa dipakai untuk data internal dan model khusus untuk keperluan spesifik.