Kenaikan BI Rate mendorong Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) untuk menerapkan strategi alokasi dinamis dalam pengelolaan investasi.

Langkah ini bertujuan mengoptimalkan hasil bagi para peserta di tengah tren suku bunga tinggi.

>>> Rolex Naikkan Harga Jam Tangan Emas 5% Akibat Lonjakan Bahan Baku

Pengamat finansial Tondy menjelaskan bahwa penyesuaian suku bunga acuan memiliki dampak ganda pada portofolio obligasi yang dikelola industri.

Fleksibilitas strategi dinamis dinilai menjadi kunci utama menghadapi tantangan pergerakan nilai pasar saat ini.

"Dengan demikian, berpotensi meningkatkan hasil investasi peserta," katanya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026). Peluang pertumbuhan hasil muncul bersamaan dengan risiko koreksi harga sekuritas di pasar keuangan.

Tondy berpendapat kenaikan BI Rate juga menjadi tantangan karena berpotensi menyebabkan penurunan nilai pasar (mark-to-market) jangka pendek pada portofolio surat utang jangka panjang.

Namun, bagi peserta DPLK, dampak itu bersifat temporer.

Melalui pengelolaan aktif, DPLK justru berpotensi membukukan hasil investasi yang lebih kompetitif di tengah tren suku bunga tinggi.

>>> Unboxing Lava Bold N2 5G: Baterai Besar dan Layar 120Hz

Sebagai langkah taktis, DPLK didorong melakukan reposisi ke instrumen jangka pendek yang lebih likuid dan responsif.

Instrumen tersebut meliputi deposito on-call, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta reksadana pasar uang.

Selain itu, penerapan barbell strategy pada obligasi disarankan dengan mengombinasikan tenor sangat pendek untuk likuiditas dan tenor panjang untuk mengunci yield tinggi.

"Terakhir, diversifikasi ke instrumen alternatif, seperti obligasi korporasi investment grade dan sukuk yang memberikan spread di atas suku bunga acuan," tuturnya.

Instrumen prioritas saat ini meliputi deposito perbankan, SBN tenor pendek hingga menengah, SRBI, obligasi korporasi rating AAA/AA, serta sukuk negara.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi DPLK konvensional tercatat sebesar Rp 157,78 triliun per April 2026.

>>> NQI dan StarWiz Technology Jalin Kerja Sama Kembangkan Komputasi Kuantum

Instrumen terbesar ditempatkan pada deposito berjangka bank sebesar Rp 76,33 triliun atau 48,38 persen, diikuti instrumen SBN sebesar Rp 47,68 triliun atau 30,22 persen.