Meskipun kontribusinya terhadap kebutuhan nasional masih terbatas, investasi dan kapasitas produksi sektor ini terus mengalami pertumbuhan.

Kementerian Lingkungan Hidup China pada Mei lalu telah menyetujui proyek percontohan konversi batubara menjadi olefin di Kota Ordos, Inner Mongolia.

Proyek bernilai 22,1 miliar yuan atau setara US$ 3,3 miliar ini dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 800.000 ton per tahun.

>>> KPK Tahan Lima Pegawai BPK Terkait Suap Audit Muara Enim

Olefin sendiri merupakan bahan baku utama yang digunakan dalam industri plastik dan berbagai produk kimia lainnya. Keuntungan industri petrokimia berbasis batubara ini melonjak sejak ketegangan geopolitik meningkat.

Para pelaku usaha dapat memanfaatkan batubara domestik yang harganya lebih murah. Hal ini memberi keunggulan dibanding perusahaan petrokimia konvensional yang bergantung pada minyak bumi sebagai bahan baku utama.

Tantangan Emisi Karbon dan Target Iklim

Di sisi lain, ekspansi penggunaan batubara untuk industri petrokimia memicu kekhawatiran besar terkait peningkatan emisi karbon.

Ketika dimintai keterangan mengenai strategi mengatasi dampak lingkungan tersebut, Huang Zhiqiang tidak memberikan jawaban secara langsung.

Kendati demikian, ia menegaskan adanya upaya penyeimbangan antara pemanfaatan batubara dan pengembangan energi terbarukan.

Kapasitas terpasang energi terbarukan di Inner Mongolia diklaim telah mencapai sekitar 53% dari total kapasitas pembangkit di wilayah tersebut.

Dokumen pemerintah juga menunjukkan rencana integrasi hidrogen hijau dalam proyek konversi batubara menjadi bahan kimia.

Meskipun demikian, sejumlah pemerhati energi bersih mengingatkan agar penggunaan hidrogen hijau tidak dijadikan pembenaran untuk terus memperluas industri berbasis batubara.

Inner Mongolia Jadi Pusat Pasokan Nasional

Inner Mongolia saat ini menguasai sebagian besar pasokan bahan bakar fosil di China dengan volume produksi yang sangat besar setiap tahunnya.

Huang mengungkapkan bahwa Inner Mongolia memproduksi sekitar 1,25 miliar hingga 1,28 miliar ton batubara setiap tahun, atau lebih dari seperempat total produksi nasional China.

Sekitar dua pertiga dari total produksi wilayah tersebut berasal dari Kota Ordos.

Kota ini sekarang ditetapkan sebagai lokasi utama pembangunan basis industri konversi batubara menjadi petrokimia terbesar di China.

>>> Evan Marvino Minta Maaf Usai Istri Bongkar Dugaan KDRT

Kebijakan ini membuktikan bahwa di tengah percepatan transisi menuju energi bersih, Beijing tetap memandang batubara sebagai aset strategis guna menjaga ketahanan energi nasional dari ketidakpastian geopolitik dunia.