Meutya membedah fenomena sosiologis digital terkait efek ilusi algoritma yang kerap memanipulasi persepsi netizen di berbagai platform.

Konfigurasi sistem saat ini membuat konten yang muncul berulang tidak selalu mencerminkan realitas objektif di lapangan.

"Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan.

Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta.

Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi," pinta Meutya.

Publik diinstruksikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap persebaran hoaks, disinformasi terstruktur, manipulasi visual berbasis kecerdasan buatan, hingga pemotongan video tanpa konteks utuh.

Praktik tersebut ditengarai sengaja diproduksi untuk memecah belah persatuan bangsa.

"Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi.

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang.

>>> Alphonso Davies Dipastikan Absen Lawan Bosnia-Herzegovina

Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab," tutur Meutya.