Harga energi global mengalami penurunan serentak pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Pelemahan ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot sekitar 4,5% ke US$ 83.782 per barel.

>>> Pendidikan Gratis dan Lapisan Persoalan Baru di Baliknya

Minyak Brent melemah 4,0% ke US$ 86.493 per barel, sementara gas alam terkoreksi 3,3% menjadi US$ 3,05 per MMBtu.

Koreksi ini terjadi setelah beredar draf kesepakatan damai 14 poin antara AS dan Iran.

Pasar menilai hal ini dapat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dalam 30 hari serta berpotensi mencabut sanksi minyak terhadap Iran.

Analis Sutopo mengatakan harapan normalisasi pasokan energi global langsung meredakan kekhawatiran akan disrupsi pasokan. Sentimen ini menjadi faktor utama di balik penurunan harga energi.

Di sisi lain, harga gas alam AS juga tertekan oleh faktor fundamental domestik.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan gas alam meningkat 108 miliar kaki kubik, sekitar 6% di atas rata-rata lima tahunan.

Penurunan volume ekspor akibat pemeliharaan di fasilitas LNG Freeport dan Golden Pass turut memperburuk kondisi.

>>> Pochettino Waspadai Agresivitas Paraguay di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Pelemahan harga energi kali ini lebih dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar daripada perubahan pasokan fisik.

Ekspektasi deeskalasi konflik juga mendorong pelemahan indeks dolar AS karena berkurangnya permintaan aset safe haven. Meski pelemahan dolar seharusnya positif bagi komoditas, sentimen pasokan minyak Iran lebih dominan.

Kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi, di kisaran 3,50% hingga 3,75%, juga membatasi ruang penguatan harga energi.