Proyeksi lonjakan wisatawan internasional yang diharapkan menggerakkan industri pariwisata Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya terwujud.

Gelaran sepak bola terbesar di dunia ini awalnya diperkirakan membawa keuntungan besar bagi sektor perjalanan setempat yang tengah menghadapi penurunan jumlah wisatawan mancanegara.

>>> Justin Hubner Resmi Nikahi Jennifer Coppen di Bali dengan Adat Jawa

Gelombang suporter yang diharapkan memenuhi hotel-hotel di berbagai kota tuan rumah belum juga datang, seperti dikutip dari Reuters.

Kondisi tersebut memaksa sejumlah akomodasi memangkas tarif kamar, sementara pemesanan tiket pesawat justru mengalami penurunan akibat lonjakan harga.

Harga Tiket Mahal dan Minat Rendah

Minat penonton semakin tertekan oleh harga tiket pertandingan yang mahal, ditambah tingkat antusiasme yang dinilai lebih rendah dibandingkan penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya.

Pola tradisional perjalanan suporter internasional yang rela mengeluarkan biaya besar mulai kehilangan efektivitas akibat kendala biaya tinggi, persoalan visa, serta kompleksitas mobilitas di 16 kota penyelenggara.

Wisatawan domestik Amerika Serikat juga belum mampu menutupi kekurangan kuota pengunjung tersebut.

Hal ini terjadi mengingat popularitas sepak bola di negara tersebut masih berada di bawah olahraga lain seperti American football, basket, maupun baseball.

"Secara keseluruhan ini mengecewakan.

Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan untuk menggambarkannya," ujar Kepala Eksekutif Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani.

Asosiasi tersebut bahkan memangkas proyeksi pendapatan hotel yang berkaitan dengan Piala Dunia hingga 60 persen menjadi sekitar US$ 60 juta.

Data dari perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan pemesanan tiket pesawat dari Eropa menuju sebagian besar kota penyelenggara selama Juni hingga Juli turun rata-rata 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.