Investor global masih menuntut risk premium lebih tinggi terhadap Indonesia akibat kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu governance dan kredibilitas pasar modal.

Sentimen eksternal dan dinamika aksi protes mahasiswa di dalam negeri dipandang sebagai stimulus tambahan bagi pemodal asing untuk menangguhkan investasi.

"Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai alasan tambahan untuk menunda, sementara akar persoalan tetap pada tingginya risk premium Indonesia," terang Liza.

Di sisi lain, stabilisasi nilai tukar rupiah mulai terjadi pasca kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,50 persen di tengah redanya tensi geopolitik dunia.

>>> Semen Indonesia Operasikan Fasilitas Ekspor Baru di Tuban, Target Pasar AS

Arus modal mendatang akan dipengaruhi oleh agenda MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni.