Mongolia Dalam, salah satu wilayah penghasil batu bara terbesar di China, berencana memperluas penggunaan komoditas tersebut untuk memproduksi bahan kimia.

Langkah ini tetap dijalankan meskipun praktik tersebut menimbulkan ancaman yang makin besar terhadap target iklim negara tersebut.

>>> Jennifer Coppen Gelar Siraman dan Pengajian Jelang Nikah dengan Justin Hubner

Perang Iran telah meningkatkan keekonomian industri kimia berbasis batu bara karena mendorong kenaikan harga minyak. Para pejabat daerah mempromosikannya sebagai sumber utama kemandirian energi bagi China.

"Meningkatkan produksi produk kimia berbasis batu bara akan memperkuat swasembada minyak dan gas dalam negeri, membantu mengurangi serta mengimbangi tantangan ketahanan energi di tingkat industri," kata Huang Zhiqiang, wakil ketua eksekutif Pemerintah Daerah Otonom Mongolia Dalam, dalam konferensi pers di Hohhot pada Kamis.

"Hal ini mengurangi ketergantungan kita pada impor minyak dan gas, sekaligus menurunkan porsi pasokan dari luar negeri," ujarnya.

Wilayah tersebut merupakan rumah bagi salah satu pusat industri kimia berbasis batu bara terbesar di China, yakni Kota Ordos.

Di tempat ini, batu bara diolah menjadi olefin untuk memproduksi plastik, serta menjadi minyak dan gas sintetis.

Pabrik olefin Baofeng, yang mulai beroperasi tahun lalu dengan kapasitas produksi tahunan 3 juta ton, merupakan yang terbesar di negara itu.

Beberapa fasilitas olefin besar lainnya juga sedang dikembangkan di kawasan tersebut.

Perang Iran telah menjadi pendorong bagi industri ini, dan Bloomberg Intelligence memperkirakan konsumsi batu bara di sektor tersebut dapat meningkat hingga 20% tahun ini.

Meski teknologi konversi batu bara tersebut meningkatkan kemandirian China, ekspansinya juga menghambat kemajuan negara itu dalam upaya mengurangi emisi.