Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (12/6/2026).

Berdasarkan data TradingView, mata uang garuda mengakhiri perdagangan dengan kenaikan sebesar 0,62% ke level Rp17.865 per dolar AS.

>>> Cecina vs Biltong: Perbedaan Daging Kering Meksiko dan Afrika Selatan

Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen global seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Apresiasi rupiah berjalan beriringan dengan pergerakan beberapa mata uang di kawasan Asia.

Peso Filipina memimpin penguatan dengan kenaikan 0,51%, diikuti oleh rupee India 0,49%, yuan China 0,20%, dan ringgit Malaysia 0,14%.

Namun, beberapa mata uang regional terpantau mengalami koreksi terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan turun 0,29%, yen Jepang melemah 0,21%, dolar Singapura menyusut 0,12%, baht Thailand berkurang 0,09%, serta dolar Taiwan terkoreksi 0,03%.

Sentimen Positif dari Dalam dan Luar Negeri

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama bagi mata uang negara berkembang.

Penurunan volatilitas pasar keuangan global ini membuka peluang bagi kembalinya aliran modal ke aset berisiko.

>>> Harapan Perdamaian AS-Iran Menguat Setelah Pernyataan Trump

Faktor internal turut memberikan dampak positif terhadap pergerakan mata uang domestik. Aksi demonstrasi yang berlangsung di dalam negeri terpantau tertib sehingga tidak memicu kekhawatiran berlebih di kalangan investor.

"Untuk pekan depan, rupiah diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan selama sentimen positif terkait upaya perdamaian AS-Iran tetap terjaga.

Namun, pasar tetap mewaspadai kemungkinan perubahan sikap atau perkembangan geopolitik yang dapat mengubah ekspektasi investor secara cepat," ujar Lukman, Jumat (12/6/2026).

Selain faktor global, pelaku pasar sedang menanti hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada pekan depan.

Bank sentral diproyeksikan bakal menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Langkah penyesuaian suku bunga oleh BI ini dinilai berpotensi meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik. Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat sentimen positif di tengah kedinamisan pasar internasional.

Melalui perpaduan kondusifnya sentimen global dan dukungan moneter dalam negeri, rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS untuk pekan depan.

>>> Pemerintah Matangkan Reformasi Subsidi untuk Tekan Beban APBN

Mata uang lokal berpeluang menguat lebih jauh jika optimisme perdamaian terus berlanjut.