Polda Metro Jaya mengerahkan 4.151 personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat (12/6/2026).

Personel yang dikerahkan terdiri atas 3.651 anggota Polri dan 500 personel TNI. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi gangguan keamanan serta kemacetan lalu lintas di pusat ibu kota.

>>> Daftar Program ANTV Sabtu, 13 Juni 2026 Ada Mega Bollywood Kaho Naa Pyaar Hai, Antara Cinta dan Dusta, Doriyaann, Series Thanak, Sayali, Vasudha, Teri Meri plus Link

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan pihaknya menghormati hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum.

Kehadiran personel di lapangan bertujuan memberikan pelayanan dan pengamanan agar kegiatan berjalan aman dan tertib.

Antisipasi dan Rekayasa Lalu Lintas

Pihak kepolisian menyiapkan langkah antisipasi meliputi pengaturan lalu lintas, pemantauan konvoi kendaraan, penutupan jalan situasional, pengamanan fasilitas umum, hingga pencegahan tindak kriminalitas.

Rekayasa arus lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa telah disiapkan secara situasional dengan mempertimbangkan keselamatan peserta aksi dan pengguna jalan.

>>> Profil Tampang Icha Diduga Selingkuhan Evan Marvino Disorot Usai Pengakuan Uffri Datun Nitami Viral

Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan menyampaikan permohonan maaf kepada warga Jakarta, terutama di sekitar Bundaran HI, atas kemacetan dan ketidaknyamanan yang akan terjadi.

Ia menegaskan bahwa persoalan yang diangkat lebih mendesak daripada dampak lalu lintas sementara.

Aksi bertajuk 'Menuju Indonesia Bangkrut' ini membawa lima tuntutan utama.

Mahasiswa mendesak penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), penghentian pemborosan APBN, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghentian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisme di ranah sipil, serta desakan agar Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah.

>>> 4 Cara Mudah Membersihkan Kerak pada Keran Air

Yatalathof menyoroti terbatasnya mobilitas sosial, sempitnya lapangan pekerjaan, dan ketidakpastian masa depan yang dirasakan masyarakat dalam jangka panjang sebagai latar belakang aksi tersebut.