Bauran kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia (BI) mulai menunjukkan dampak positif terhadap nilai tukar rupiah.

Langkah strategis tersebut meliputi kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5% serta peningkatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

>>> Jadwal KRL Solo Jogja 12 Juni 2026: Rute Palur-Yogyakarta, Tarif Rp8.000

Dampak positif ini terlihat dari lonjakan aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI setelah lelang pada 10 Juni 2026.

Pasar SBN juga kembali diminati investor asing, terutama untuk tenor pendek dan menengah.

“Sejalan dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penguatan dan kembali berada di bawah level Rp 18.000 per dolar AS,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi pada Jumat (12/6/2026).

Data Bloomberg pada Jumat (12/6/2026) pukul 09.03 WIB menunjukkan rupiah di pasar spot exchange dibuka menguat 59 poin atau 0,33% ke posisi Rp17.939 per dolar AS.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,03% ke level 99.829.

Bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus memantau pergerakan pasar keuangan global maupun domestik.

Intervensi kebijakan akan dilakukan secara konsisten demi menjaga daya tarik instrumen keuangan dalam negeri dan mengembalikan nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamentalnya.

>>> Saham Bumi Resources Melonjak 8,57 Persen pada Sesi I

Target nilai tukar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS.

“Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi NDF (Non-Deliverable Forward) di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar domestik secara konsisten dan terukur,” kata Ramdan.